Peran Mahasiswa Pendidikan Agama Islam melalui Kukerta Mandiri dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Keagamaan Siswa SMAN 8 Tanjung Jabung Barat
Peran
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam melalui Kukerta Mandiri dalam Meningkatkan
Motivasi Belajar Keagamaan Siswa SMAN 8 Tanjung Jabung Barat
Oleh: Intan
Ayu Permatasari
NIM: 201220060
Email: intan310117@gmail.com
Fakultas: Tarbiyah dan Keguruan
Lokasi: SMAN 8 Negeri Tanjung Jabung Barat
Mengabdi
dengan Ilmu: Jejak Mahasiswa PAI di Sekolah
Kuliah
Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri adalah sebuah ruang pengabdian yang mempertemukan
dunia akademik dengan realitas sosial
Pada
tahun 2025, saya berkesempatan melaksanakan Kukerta Mandiri di SMAN 8 Negeri
Tanjung Jabung Barat. Pengabdian ini mengambil fokus pada peran
mahasiswa PAI dalam meningkatkan motivasi belajar keagamaan siswa. Di era
digital saat ini, tantangan dalam pendidikan agama tidaklah sedikit. Banyak
siswa yang lebih akrab dengan gawai dibanding dengan kitab suci. Semangat
belajar agama sering kali meredup karena kurangnya pembiasaan dan minimnya
pendampingan yang dekat dengan dunia remaja.
Dalam
konteks ini, mahasiswa PAI hadir sebagai agen perubahan. Melalui program kerja
(proker) sederhana tetapi penuh makna seperti mengajar mengaji, mengajar di
kelas, senam bersama, dan yasinan saya mencoba menyalakan kembali semangat
religius sekaligus menghadirkan pengalaman belajar agama yang menyenangkan.
Mengajar
Mengaji: Membumikan Kalam Allah
Mengajar
mengaji menjadi titik awal yang penting. Membaca Al-Qur’an bukan hanya soal
melafalkan huruf, melainkan juga melatih kedekatan spiritual seorang Muslim
dengan Tuhannya. Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4:
"Dan
bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil."
Ayat
ini mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ritual, tetapi harus
dilakukan dengan kesungguhan, ketenangan, dan penghayatan
Gambar
: Mengajar
Mengaji
Melalui
pembelajaran intensif dan pendekatan personal, siswa yang awalnya enggan mulai
berani melafalkan ayat di depan teman-temannya. Bahkan, beberapa di antara
mereka mengungkapkan rasa bangga karena mampu memperbaiki bacaan. Di sinilah
terlihat bahwa perhatian sederhana dapat membangkitkan motivasi besar dalam
diri seorang siswa.
Mengajar
di Kelas: Menjadi Inspirasi, Bukan Sekadar Pengajar
Selain
mengaji, saya juga mendapat kesempatan untuk mengajar langsung di kelas.
Membawakan materi Pendidikan Agama Islam bagi siswa SMA adalah tantangan
tersendiri. Mereka adalah generasi yang kritis, cepat bosan, tetapi juga penuh
rasa ingin tahu.
Gambar
: Mengajar
di Sekolah
Saya
mencoba menghadirkan metode pembelajaran yang bervariasi: diskusi kelompok,
studi kasus, hingga permainan edukatif. Dengan cara ini, siswa tidak hanya
mendengar tetapi juga berpartisipasi aktif. Saya teringat pesan Ki Hajar
Dewantara:
“Ing
ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Artinya,
seorang pendidik di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di
belakang memberi dorongan. Prinsip ini saya terapkan: bukan hanya mengajar
materi, tetapi juga berusaha menjadi contoh, sahabat diskusi, sekaligus
penyemangat.
Hasilnya
terasa: suasana kelas lebih hidup, siswa lebih aktif bertanya, bahkan ada yang
mulai berani mengaitkan pelajaran agama dengan isu-isu kekinian. Inilah yang
disebut pembelajaran bermakna—agama tidak lagi dianggap sebagai hafalan, tetapi
sebagai pedoman hidup.
Senam
Bersama: Menyatukan Jiwa dan Raga
Kegiatan
senam bersama sekilas tampak tidak ada kaitannya dengan pendidikan
agama. Namun, Islam sesungguhnya menekankan keseimbangan antara jasmani dan
rohani. Rasulullah SAW bersabda:
“Mukmin
yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim)
Gambar
: Senam
Bersama
Kekuatan
yang dimaksud bukan hanya spiritual, tetapi juga fisik. Melalui senam bersama,
siswa belajar pentingnya menjaga kesehatan tubuh agar lebih mudah beribadah dan
belajar. Selain itu, senam menumbuhkan kebersamaan, kekompakan, dan keceriaan.
Saya
melihat bagaimana siswa yang awalnya canggung akhirnya larut dalam gerakan
senam, tertawa bersama, dan merasakan energi positif. Dampaknya, mereka menjadi
lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan keagamaan setelahnya. Senam
sederhana ternyata mampu menghidupkan motivasi belajar secara tidak langsung.
Yasinan:
Menghidupkan Spiritualitas Kolektif
Program
yasinan rutin menjadi proker yang paling berkesan. Kegiatan ini tidak
hanya diikuti siswa, tetapi juga guru, bahkan sebagian masyarakat sekitar.
Membaca surah Yasin secara bersama-sama menghadirkan suasana religius yang
khidmat.
Gambar
: Yasinan
Bersama
Rasulullah
SAW pernah bersabda:
“Perindahlah
bacaan kalian dengan membaca Al-Qur’an bersama-sama.”
(HR. Bukhari)
Yasinan
membiasakan siswa untuk dekat dengan Al-Qur’an, sekaligus memperkuat ukhuwah
islamiyah. Tidak jarang, setelah yasinan, siswa menyampaikan kesan bahwa mereka
merasa lebih tenang dan lebih termotivasi untuk belajar. Hal ini menunjukkan
bahwa spiritualitas kolektif memberi pengaruh besar terhadap motivasi belajar
keagamaan.
Hasil
yang Terlihat: Semangat yang Menular
Selama
Kukerta berlangsung, saya melihat perubahan nyata. Siswa yang awalnya malu
membaca Al-Qur’an kini lebih percaya diri. Suasana kelas PAI yang tadinya sepi
menjadi lebih hidup dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Mereka juga lebih
disiplin mengikuti kegiatan keagamaan seperti yasinan.
Motivasi
belajar keagamaan tidak tumbuh instan, melainkan melalui pembiasaan,
pendekatan, dan teladan. Namun, pengalaman ini membuktikan bahwa mahasiswa PAI
dapat menjadi katalis yang menyalakan api semangat tersebut.
Mahasiswa
PAI: Agen Perubahan dalam Pendidikan Agama
Peran
mahasiswa PAI melalui Kukerta Mandiri sesungguhnya adalah bentuk nyata dari
konsep agen of change. Mahasiswa tidak hanya datang sebagai “guru
sementara,” tetapi juga sebagai motivator, inspirator, sekaligus teladan
religius bagi siswa.
Saya
meyakini bahwa pengabdian ini sejalan dengan firman Allah dalam QS.
Al-Mujadilah ayat 11:
“Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ayat
ini menjadi pengingat bahwa ilmu yang dimiliki mahasiswa bukan untuk diri
sendiri, tetapi harus disebarkan demi kemaslahatan umat. Kukerta menjadi wadah
untuk mewujudkan perintah tersebut.
Penutup:
Jejak Pengabdian yang Membekas
Melalui
Kukerta Mandiri di SMAN 8 Negeri Tanjung Jabung Barat, saya belajar bahwa
membangun motivasi belajar keagamaan siswa tidak selalu memerlukan program
besar. Cukup dengan kegiatan sederhana seperti mengajar mengaji, mengajar di
kelas, senam, dan yasinan, motivasi itu bisa tumbuh jika dilakukan dengan
ikhlas, konsisten, dan penuh perhatian.
Sebagai
mahasiswa Pendidikan Agama Islam, saya merasa bangga dapat berkontribusi.
Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi, bahwa pengabdian sekecil apa pun akan
selalu bermakna jika dilakukan dengan hati. Seperti kata pepatah, “Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad).
Dengan
demikian, Kukerta Mandiri bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi juga ladang
amal, tempat menempa diri, dan sarana untuk meninggalkan jejak pengabdian yang
akan membekas di hati siswa, sekolah, dan masyarakat.
Referensi:
Ihsan Batubara, Aini
Fadilah Daulay, Resti Agustina, Melda Junita Nst, Nur Padilah, Cahyani Aulia
Fitri, Khodijah Nasution, & Siti Khairani. (2024). Peran Mahasiswa KKN
Dalam Pengembangan Pendidikan Anak-Anak di Desa Pintu Padang. Jurnal
Informasi Pengabdian Masyarakat, 2(1), 104–114.
https://doi.org/10.47861/jipm-nalanda.v2i1.771
Oktasari Putri, P.,
& Dwi Antari, E. (2025). BERSINERGI UNTUK DESA: MAHASISWA KKN UNIVERSITAS
COKROAMINOTO YOGYAKARTA DAN MASYARAKAT PADUKUHAN SINGOSAREN. GEMI JUNAL
PENELITIAN DAN PENGABDIAN, 04(02), 95–110.
Ratoni. (2024). PLURALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN. QALAM:
Jurnal Pendidikan Islam, 05(02), 6–20.
https://ejournal.stais.ac.id/index.php/qlm/index
Lampiran
Kegiatan Lainnya
Komentar
Posting Komentar