Peran Mahasiswa Pendidikan Agama Islam melalui Kukerta Mandiri dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Keagamaan Siswa SMAN 8 Tanjung Jabung Barat

 

Peran Mahasiswa Pendidikan Agama Islam melalui Kukerta Mandiri dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Keagamaan Siswa SMAN 8 Tanjung Jabung Barat

Oleh: Intan Ayu Permatasari
NIM: 201220060
Email: intan310117@gmail.com
Fakultas: Tarbiyah dan Keguruan
Lokasi: SMAN 8 Negeri Tanjung Jabung Barat


Mengabdi dengan Ilmu: Jejak Mahasiswa PAI di Sekolah

Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Mandiri adalah sebuah ruang pengabdian yang mempertemukan dunia akademik dengan realitas sosial (Oktasari Putri & Dwi Antari, 2025). Program ini tidak hanya menuntut mahasiswa untuk mengaplikasikan teori, tetapi juga menguji kepekaan sosial, kreativitas, dan keikhlasan dalam melayani masyarakat (Ihsan Batubara et al., 2024). Bagi mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), Kukerta memiliki makna yang lebih dalam: ia adalah kesempatan untuk menyalurkan ilmu agama sekaligus menumbuhkan motivasi belajar keagamaan di kalangan generasi muda.

Pada tahun 2025, saya berkesempatan melaksanakan Kukerta Mandiri di SMAN 8 Negeri Tanjung Jabung Barat. Pengabdian ini mengambil fokus pada peran mahasiswa PAI dalam meningkatkan motivasi belajar keagamaan siswa. Di era digital saat ini, tantangan dalam pendidikan agama tidaklah sedikit. Banyak siswa yang lebih akrab dengan gawai dibanding dengan kitab suci. Semangat belajar agama sering kali meredup karena kurangnya pembiasaan dan minimnya pendampingan yang dekat dengan dunia remaja.

Dalam konteks ini, mahasiswa PAI hadir sebagai agen perubahan. Melalui program kerja (proker) sederhana tetapi penuh makna seperti mengajar mengaji, mengajar di kelas, senam bersama, dan yasinan saya mencoba menyalakan kembali semangat religius sekaligus menghadirkan pengalaman belajar agama yang menyenangkan.

Mengajar Mengaji: Membumikan Kalam Allah

Mengajar mengaji menjadi titik awal yang penting. Membaca Al-Qur’an bukan hanya soal melafalkan huruf, melainkan juga melatih kedekatan spiritual seorang Muslim dengan Tuhannya. Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4:

"Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil."

Ayat ini mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ritual, tetapi harus dilakukan dengan kesungguhan, ketenangan, dan penghayatan (Ratoni, 2024). Dalam kegiatan mengajar mengaji di sekolah, saya menemukan variasi kemampuan siswa. Ada yang sudah fasih, ada pula yang masih terbata-bata.

Gambar : Mengajar Mengaji

Melalui pembelajaran intensif dan pendekatan personal, siswa yang awalnya enggan mulai berani melafalkan ayat di depan teman-temannya. Bahkan, beberapa di antara mereka mengungkapkan rasa bangga karena mampu memperbaiki bacaan. Di sinilah terlihat bahwa perhatian sederhana dapat membangkitkan motivasi besar dalam diri seorang siswa.

Mengajar di Kelas: Menjadi Inspirasi, Bukan Sekadar Pengajar

Selain mengaji, saya juga mendapat kesempatan untuk mengajar langsung di kelas. Membawakan materi Pendidikan Agama Islam bagi siswa SMA adalah tantangan tersendiri. Mereka adalah generasi yang kritis, cepat bosan, tetapi juga penuh rasa ingin tahu.

Gambar : Mengajar di Sekolah

Saya mencoba menghadirkan metode pembelajaran yang bervariasi: diskusi kelompok, studi kasus, hingga permainan edukatif. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mendengar tetapi juga berpartisipasi aktif. Saya teringat pesan Ki Hajar Dewantara:

“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Artinya, seorang pendidik di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Prinsip ini saya terapkan: bukan hanya mengajar materi, tetapi juga berusaha menjadi contoh, sahabat diskusi, sekaligus penyemangat.

Hasilnya terasa: suasana kelas lebih hidup, siswa lebih aktif bertanya, bahkan ada yang mulai berani mengaitkan pelajaran agama dengan isu-isu kekinian. Inilah yang disebut pembelajaran bermakna—agama tidak lagi dianggap sebagai hafalan, tetapi sebagai pedoman hidup.

Senam Bersama: Menyatukan Jiwa dan Raga

Kegiatan senam bersama sekilas tampak tidak ada kaitannya dengan pendidikan agama. Namun, Islam sesungguhnya menekankan keseimbangan antara jasmani dan rohani. Rasulullah SAW bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

Gambar : Senam Bersama

Kekuatan yang dimaksud bukan hanya spiritual, tetapi juga fisik. Melalui senam bersama, siswa belajar pentingnya menjaga kesehatan tubuh agar lebih mudah beribadah dan belajar. Selain itu, senam menumbuhkan kebersamaan, kekompakan, dan keceriaan.

Saya melihat bagaimana siswa yang awalnya canggung akhirnya larut dalam gerakan senam, tertawa bersama, dan merasakan energi positif. Dampaknya, mereka menjadi lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan keagamaan setelahnya. Senam sederhana ternyata mampu menghidupkan motivasi belajar secara tidak langsung.

Yasinan: Menghidupkan Spiritualitas Kolektif

Program yasinan rutin menjadi proker yang paling berkesan. Kegiatan ini tidak hanya diikuti siswa, tetapi juga guru, bahkan sebagian masyarakat sekitar. Membaca surah Yasin secara bersama-sama menghadirkan suasana religius yang khidmat.

Gambar : Yasinan Bersama

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Perindahlah bacaan kalian dengan membaca Al-Qur’an bersama-sama.” (HR. Bukhari)

Yasinan membiasakan siswa untuk dekat dengan Al-Qur’an, sekaligus memperkuat ukhuwah islamiyah. Tidak jarang, setelah yasinan, siswa menyampaikan kesan bahwa mereka merasa lebih tenang dan lebih termotivasi untuk belajar. Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas kolektif memberi pengaruh besar terhadap motivasi belajar keagamaan.

Hasil yang Terlihat: Semangat yang Menular

Selama Kukerta berlangsung, saya melihat perubahan nyata. Siswa yang awalnya malu membaca Al-Qur’an kini lebih percaya diri. Suasana kelas PAI yang tadinya sepi menjadi lebih hidup dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Mereka juga lebih disiplin mengikuti kegiatan keagamaan seperti yasinan.

Motivasi belajar keagamaan tidak tumbuh instan, melainkan melalui pembiasaan, pendekatan, dan teladan. Namun, pengalaman ini membuktikan bahwa mahasiswa PAI dapat menjadi katalis yang menyalakan api semangat tersebut.

Mahasiswa PAI: Agen Perubahan dalam Pendidikan Agama

Peran mahasiswa PAI melalui Kukerta Mandiri sesungguhnya adalah bentuk nyata dari konsep agen of change. Mahasiswa tidak hanya datang sebagai “guru sementara,” tetapi juga sebagai motivator, inspirator, sekaligus teladan religius bagi siswa.

Saya meyakini bahwa pengabdian ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa ilmu yang dimiliki mahasiswa bukan untuk diri sendiri, tetapi harus disebarkan demi kemaslahatan umat. Kukerta menjadi wadah untuk mewujudkan perintah tersebut.

Penutup: Jejak Pengabdian yang Membekas

Melalui Kukerta Mandiri di SMAN 8 Negeri Tanjung Jabung Barat, saya belajar bahwa membangun motivasi belajar keagamaan siswa tidak selalu memerlukan program besar. Cukup dengan kegiatan sederhana seperti mengajar mengaji, mengajar di kelas, senam, dan yasinan, motivasi itu bisa tumbuh jika dilakukan dengan ikhlas, konsisten, dan penuh perhatian.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Islam, saya merasa bangga dapat berkontribusi. Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi, bahwa pengabdian sekecil apa pun akan selalu bermakna jika dilakukan dengan hati. Seperti kata pepatah, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad).

Dengan demikian, Kukerta Mandiri bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi juga ladang amal, tempat menempa diri, dan sarana untuk meninggalkan jejak pengabdian yang akan membekas di hati siswa, sekolah, dan masyarakat.

Referensi:

Ihsan Batubara, Aini Fadilah Daulay, Resti Agustina, Melda Junita Nst, Nur Padilah, Cahyani Aulia Fitri, Khodijah Nasution, & Siti Khairani. (2024). Peran Mahasiswa KKN Dalam Pengembangan Pendidikan Anak-Anak di Desa Pintu Padang. Jurnal Informasi Pengabdian Masyarakat, 2(1), 104–114. https://doi.org/10.47861/jipm-nalanda.v2i1.771

Oktasari Putri, P., & Dwi Antari, E. (2025). BERSINERGI UNTUK DESA: MAHASISWA KKN UNIVERSITAS COKROAMINOTO YOGYAKARTA DAN MASYARAKAT PADUKUHAN SINGOSAREN. GEMI JUNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN, 04(02), 95–110.

Ratoni. (2024). PLURALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN. QALAM: Jurnal Pendidikan Islam, 05(02), 6–20. https://ejournal.stais.ac.id/index.php/qlm/index


 

Lampiran Kegiatan Lainnya

 

 

Komentar